DSC · periodonsia · Uncategorized

Review Journal : Efek Menopause terhadap jaringan periodontal

                                   Efek menopause terhadap jaringan periodontal

Abstrak

Periodontitis dan gingivitis, prevalensi penyakit mulut, mempunyai banyak korelasi pada perubahan kesehatan sistemik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek menopause terhadap jaringan periodontal.  Studi epidemiologi telah mengidentifikasi sejulah faktor resiko dan indikator resiko untuk pelepasan perlekatan periodontal yang meliputi demografi, sosial ekonomi, perilaku, genetik dan faktor sistemik. Menopose juga berhubungan dengan adanya destruksi pada penyakit periodontal terhadap wanita berusia lanjut. Hemostasis yang melibatakan periodonsium secara kompleks memiliki hubungan multifaktorial. Estrogen dan progesteron adalah hormon yang bertanggung jawab pada perubahan fisiologis khsusnya pada wanita. Menopause berhubungan secara langsung terhadap perubahan orofasial secara kompleks.

 

Penyakit periodontal meliputi gingivits dan periodontitis. Gingivitis adalah kondisi inflamasi pada jaringan lunak disekitar gigi. Gejala utama pada gingivitis adalah kemerahan, pembengkakan, dan perdarahan pada gusi. Gingivitis lebih sering dapat dikontrol dengan cara menghilangkan deposit lunak dan keras dari permukaan gigi. Gingivitis dapat mengarah menjadi periodontitis, suatu radang pada jaringan pendukung gigi, termasuk gusi, tulang alveolar, dan ligamentum periodontal. Periodontitis adalah peradangan kronik yang merupakan respon predominan akibat infeksi bakteri gram negative yang berkoloni pada plak gigi. Spesies bakteri yang spesifik contohnya adalah Porphyromonas gingivalis, dan Tannerella forsythensis yang terlihat sebagai etiologi umum dari penyakit periodontitis.

 

Respon peradangan akan berakibat timbulnya ulserasi pada gusi, yang memungkinkan penjalaran sel bakteri, serta produknya (berupa lipopolysaccharides/Lps; fragmen peptidoglikan; dan enzim hidrolitik), yang terbawa oleh sirkulasi sistemik. Penelitian telah memperagakan respon inang terhadap infeksi periodontal yang memperlihatkan adanya produksi lokal dari sitokin dan mediator biologis seperti prostaglandin dan interleukin; sama halnya dengan produksi sistemik dari serum antibodi. Periodontitis menjadi progresif ketika peradangan yang terjadi sudah menjalar dari gusi menuju ke tulang serta ligamentum dan kondisi kehilangan tulang serta perlekatan ligamentum periodontal menjadi takterbalikkan. Tanda dan gejala dari perkembangan periodontitis ditandai dengan kemerahan, pembengkakan gusi yang terlihat menonjol dari arah gigi, adanya bau mulut, terdapat purulensi antara gigi dan gusi, serta gigi menjadi goyang atau terlepas dari jaringan yang melekatkannya.

 

Epidemiologi mempelajari serta mengidentifikasi jumlah faktor resiko dan indikasi resiko untuk pelepasan perlekatan jaringan periodontal (PAL), serta adanya keterlibatan demografi, sosioekonomi, perilaku, genetik, dan faktor sistemik.

 

Menopause dapat dihubungkan dengan destruksi pada penyakit periodontal pada wanita lanjut usia. Fungsi ovarium mencapai puncaknya sebelum usia 30 tahun dan berangsur-angsur menurun. Transisi menopause (klimakterik, perimenopause) ditetapkan sebagai bulan dan tahun menuju periode menstruasi terakhir, hal ini dipercepat dengan adanya fungsi folikel dan ova yang semakin sedikit, sebagai hasil dari berkurangnyalevel estrogen dan ketidakmampuan respon terhadap pituitary GnRH, FSH, dan LH. Tanda yang mengawali terjadinya transisi tersebut ialah menurunnya aliran mesntruasi dimulai dari umur 40tahun. Hal ini diikuti dengan beberapa periode menstruasi terlewati. Menopause diartikan sebagai perhentian permanen dari menstruasi sebagai akibat hilangnya fungsi folikular ovarium, dan biasanya berlangsung antara umur 45 hingga 55 tahun. Merokok merupakan satu-satunya faktor yang selalu berhubungan dengan awal timbulnya menopause secara alami. Julie melaporkan permulaan dari menopause secara alami yang dialami penduduk wanita amerika afrika ini sangat kuat hubungannya dengan rokok dan kebalikannya dengan indeks masa tubuh serta penggunaan alat kontrasepsi. Kontrasepsi melalui mulut, rendahnya indeks masa tubuh, serta status pendidikan yang rendah memiliki hubungan terhadap menopause yang terjadi lebih awal.

 

Perubahan psikologi behubungan dengan menopause dikarenakan oleh beberapa wanita mengalami gejala yang tidak nyaman. Wanita dengan gejala  paska-menopause lebih tinggi resikonya ketimbang penyakit hipertensi, perubahan lemak pro-atherogenic, diabetes, dan keparahan penyakit kardiovaskular; apabila dibandingkan dengan pre-menopause. Banyak penelitian telah diteliti untuk mengetahui hubungan antara postmenopause dengan naiknya angka total kolerterol, LDL-C (low density lipoprotein cholesterol), lipoprotein, menurunnyta level HDL-C (high density lipoprotein cholesterol). Walaupun resiko penyakit jantung pre-menopause pada wanita lebih rendah dibandingkan pria, namun akan mengalami peningkatan dua kali lipat resiko CVD bila diikuti dengan menopause. Hot flushes telah dikenal sebagai gejala umum pada orang menopause. Gejala ini terkait dengan system nervus pusat (CNS). Penurunan estrogen mengarah pada ketidaktentuan kontrol temperature pada hipotalamik pusat, yang menyebabkan gejala vasomotor. Gejala lain pada menopause ialah keringat pada malam hari. Gejala vasomotor tersebut, biasanya terlihat secara spontan terjadi antara 2-4 tahun sebelum berakhirnya menstruasi. Selain itu, periode postmenopasuse dikaitkan dengan peningkatan resiko fraktur osteoporosis, infraksi miokardiak, ketidakteraturan siklus menstruasi, kekeringan vagina, dan kemungkinan munculnya penyakit Alzheimer.

 

Osteoporosis dikenal sebagai penyakit skeletal dengan karakter penurunan masa tulang dan  kemunduran microachitectural dari jaringan tulang yang mengarah kepada meningkatnya kerapuhan tulang dengan konsekuensi yang terjadi adalah peningkatan resiko fraktur tulang. Faktor resiko awal yang berhubungan dengan perkembangan opteoporosis melibatkan unsur jenis kelamin wanita dan pertambahan usia, namun faktor resiko lainnya telah teridentifikasi; menopause awal (<45tahun), merokok, tingginya konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, badan kurus, ras (asia atau kulit putih), konsumsi kalsium yang rendah, konsumsi kafein yang berlebih, beberapa obat (seperti glukokortikoid dan obat sitotoksik) dan beberapa penyakit lainnya.

 

Osteoporosis ialah kasus penting penyebab morbidity, kematian dan biaya pengobatan yang meningkat. Efeknya dapat diperkirakan mencapai 75 juta orang di Amerika Serikat, Eropa, dan kombinasi dengan Jepang termasuk 1 dari 3 wanita postmenopause dan secara umum pada mereka yang lanjut usia. Penurunan estrogen berakibat kehilangan tulang pada wanita postmenopause. Bagaimanapun juga, pergantian hormon dengan dosis yang memadai dapat memperlambat atau mencegah kehilangan tulang. Penelitian memperlihatkan bahwa produksi estrogen yang rendah setelah menopause mampu meningkatkan produksi interleukin 1 (IL-1), IL-6, IL-8, IL-10, faktor alfa nekrosis tumor, faktor granulositus stimulus-koloni, yang dapat menstimulus osteoklas matang, proliferasi modulasi sel tulang, dan termasuk resorpsi tulang skeletal dan alveolar.

 

Sindrom mulut terbakar sebagai karakter dari sensasi terbakar pada lidah atau bagian mulut lain. Pada kondisi tersebut biasanya tidak terdapat penemuan secara klinis dan laboratorium. Pasien yang terinfeksi sering terlihat memiliki banyak keluhan pada mulutnya, termasuk rasa terbakar, kekeringan dan perubahan rasa. Keluhan rasa terbakar pada mulut dilaporkan lebih sering terjadi pada wanita, khususnya yang sudah menopause. Dalam dosis rendah diberikan benzodiazepam, antidepresan tricyclic atau antikonvulsan yang mampu berefek pada pasien dengan keluhan mulut terasa terbakar. Topical capsaicin telah digunakan pada beberaoa pasien.

 

Hormon Steroid

Homeostasis dari periodontium meliputi hubungan multifaktorial yang kompleks, yang mana sistem endokrin memiliki peranan penting. Hormon merupakan molekul yang spesifik mengatur dan memiliki efek kuat terhadap faktor penting dari perkembangan dan integritas tulang serta rongga mulut, termasuk jaringan periodontal. Hormon dapat dibedakan menjadi 4 bagian berdasarkan struktus kimianya: steroid, glikoprotein, polipeptida, dan amino. Hormon steroid diperoleh dari kolesterol dan memiliki 3 cincin dengan masing-masing terdiri dari 6 karbon.

 

Estrogen dan progesterone adalah hormon yang bertanggungjawab untuk perubahan psikologi pada wanita yang spesifik pada fase kehidupan: pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, menopause, dan post menopause. Estrogen, progesterone, dan gonadotropin korionik (selama kehamilan) adalah hormon yang mampu berefek pada system sirkulasi mikro, memproduksi perubahan yang diikuti pembengkakan dari sel endothelial dan periocitus dari venules, adherence dari granulositus dan platelet ke dinding pembuluh darah, pembentukan dari mikrotrombus, gangguan dari sel mast perivascular, kenaikan permeabilitas vaskular dan proliferasi vascular.

 

Seluruh androgen alami diperoleh dari 18-inti hidrokarbon tetrasiklik karbon yang dikenal dengan nama androstane. Satu dari banyaknya hormon androgenik yang kuat testosterone (17-hidroksi-androst-4-en-3-one), ), disintesis oleh sel-sel leydig ‘s dari testis, yang thecal sel indung telur dan korteks adrenal. Aktivitas biologis dari androgen dapat diamati dalam hampir semua jaringan tubuh. Fungsi yang lebih penting dari androgen meliputi: diferensiasi seksual laki-laki, pengembangan fenotipe laki-laki dewasa, untuk memfasilitasi perilaku seksual manusia dan sistem regulasi dari proses metabolik spesifik di hati, ginjal, dan kelenjar ludah.

Androgen memainkan peranan penting dalam pemeliharaan masa tulang dan menghambat fungsi osteoclastik, menghambat sintesis prostaglandin dan menurunkan produksi interleukin 6 (IL-6) selama inflamasi. Juga androgen meningkatkan sintesis matriks oleh fibroblas ligamentum periodontal dan osteoblas.

Hormon steroid memberikan pengaruh yang cukup besar, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada diferensiasi sel, poliferasi, dan pertumbuhan jaringan taget. Dalam rongga mulut androgen, estrogen dan progestin diketahui mempengaruhi beberapa jenis sel. Penelitan terhadap hormon steroid difokuskan terutama pada dua kelompok sel yaitu keratosit dan fibroblas. Estrogen menghambat ekspresi inflamasi sitokin yang penting dalam proses resopsi tulang, dan defisiensi estrogen dapat menyebabkan inflamasi gingivitis yang lebih sering selama periodontitis dan kehilangan tulang selanjutnya dan mungkin dapat mengakibatkan hilangnya tulang oral maupun rangka. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa resiko kehilangan gigi pascamenopause dapat berkurang dengan pergantian estrogen. Selain itu, tingkat estrogen yang lebih rendah berkaitan dengan inflamasi gingiva dan penurunan tingkat perlekatan klinis.

Efek Menopause pada Jaringan periodontal

Menopause juga berkaitan dengan perubahan signifikan yang merugikan di orofacial complex. Wanita tampak mengalami peningkatan gejala oral yang mungkin timbul karena gangguan endokrin (kekurangan estrogen), kurang vitamin dan kalsium dan sejumlah faktor psikologi selama tahun menopause mereka. Wanita menopause mungkin mengeluhkan mulut kering karena penurunan sekresi saliva, serta sensasi terbakar pada mulut dan lidah. Sensasi rasa dapat berubah, sering menyebabkan keluhan rasa logam. Juga selama menopause, wanita mungkin mengalami dysesthasia, karies gigi, periodontitis dan osteoporois tulang rahang yang menyebabkan ketidakcocokan untuk gigi tiruan konvensional dan implan gigi.

Beberapa wanita mengalami senile athropic gingivitis, dimana terdapat perkembangan kepucatan yang abnormal pada jaringan gingiva. Orang lain mengembangkan kondisi yang dikenal sebagai menopause gingivostomatitis, yang ditandai dengan gingiva yang kering, mengkilap, mudah berdarah dan dalam rentang warna dari pucat ke erythematous.

Wanita peri- atau pasca- menopause mengambil terapi penggantian hormon (HRT) untuk meredakan gejala klimakterik dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Penggantian hormon dalam dosis yang cukup dapat memperlambat atau mencegah kehilangan tulang. Pemberian oral HRT meliputi, estrogen yang mengandung patch dermal dan Tibolone. Marcos melaporkan bahwa respon terhadap terapi HR pada penyakit periodontal mungkin karena adanya reseptor estrogen lokal dalam gingiva dan ligamen periodontal. Beberapa studi telah menyarankan bahwa perempuan postmenopause yang menggunakan HRT dapat meningkatkan retensi gigi dan menurunan kerusakan periodontal. Alex et al, menemukan bahwa wanita postmenopause HRT – memiliki kemungkinan dua kali lebih besar menderita periodontitis daripada wanita premenopause. Sebaliknya, wanita  postmenopause HRT+ tidak memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita periodontitis daripada wanita premenopause. Meskipun wanita postmenopause HRT-  menunjukkan kehilangan gigi secara signifikan lebih besar daripada wanita postmenopause HRT+. Engeland et al, mengamati bahwa wanita premenopause berusia 50 sampai 54 tahun yang disembuhkan mirip dengan wanita berusia 18 hingga 43 tahun, sedangkan wanita postmenopause HRT-  menunjukkan penyembuhan yang lebih lama. Data menunjukkan bahwa HRT dapat meningkatkan mukosa penyembuhan luka pada wanita postmenopause.

Osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Perempuan berada pada risiko yang lebih besar untuk osteoporosis setelah menopause karena kadar estrogen menurun dengan cepat, yang dapat menyebabkan kehilangan sistemik tulang. Tingkat turnover tulang lebih tinggi pada tulang alveolar dari pada tulang panjang. Oleh karena itu, ia menyarankan bahwa ketidakseimbangan sistemik dalam resorpsi tulang dan deposisi dapat menjadi manifestasi awal di tulang alveolar dibandingkan tempat lain. Kribbs melaporkan bahwa wanita postmenopause dengan osteoporosis mengalami penurunan kepadatan tulang mandibula, menipisnya korteks di Gonion, dan kehilangan gigi lebih dari wanita sehat pascamenopause. The American Academy of Periodontology menganggap osteoporosis menjadi faktor risiko untuk penyakit periodontal. Sejumlah penelitian telah menyelidiki kemungkinan hubungan antara periodontitis. Tezal et al, menemukan bahwa kepadatan mineral tulang yang rendah terkait dengan hilangnya tulang alveolar interproksimal (tulang alveolar antara gigi yang berdekatan) dan pada tingkat lebih rendah, kehilangan perlekatan ligamen. Lundstrom et al, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kondisi periodontal atau tingkat tulang marginal perempuan 70 tahun dengan osteoporosis, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kepadatan mineral tulang normal. Defisiensi estrogen menyebabkan penurunan volume tulang trabecular sekitar implan dan penurunan kontak antara implan dan tulang trabekular. Studi terbaru menggunakan model hewan telah meneliti efek dari kekurangan estrogen pada osseointegration awal implan gigi. Studi-studi ini menunjukkan bahwa ketika implan baru (tanpa oklusi fungsional) ditempatkan pada hewan sebelumnya diovariektomi, volume tulang trabecular sekitar implan dan kontak antara implan dan tulang trabekular baru nyata menurun dibandingkan dengan hewan nonovariectomized.

Osteocalcin saat ini dianggap sebagai pananda yang valid turnover tulang ketika resopsi dan pembentukan bersamaan dan spesifik menandai pembentukan tulang saat pembentukan dan resorpsi terjadi tidak bersamaan. Bullon et al, melaporkan bahwa konsentrasi serum osteocalcin yang rendah dikaitkan dengan persentase yang jauh lebih tinggi dari penurunan kedalaman probing dan tingkat perlekatan klinis setelah perawatan periodontal pada wanita menopause. Konsentrasi saliva osteocalcin secara signifikan berhubungan dengan tingginya presentase penurunan kedalaman saaat probing. Lorne et.al, melaporkan  potensi terapi dosis doksisiklin jangka panjang subantimicrobial untuk mengurangi kerusakan kolagen periodontal dan resorpsi tulang alveolar pada wanita menopause.

Sedikit pengetahuan tentang prevalensi mikrobiologi periodontal antara perempuan peri- dan pasca-menopose. Namun hormon seks telah lama dianggap mempengaruhi jaringan periodontal dan perkembangan penyakit periodontal. Tarkila et al, Melaporkan bahwa menggunakan HRT tidak berkorelasi dengan status kesehatan jaringan periodontal, dan menyebabkan sedikit sampel positif terhadap bakteri penyebab periodontal P.ginggivalis and T.forsythia. Pengobatan penyakit periodontal berfokus pada etiologi mikrobiologi. Pencegahan kehilangan tulang oleh modulasi host respon terhadap infeksi dapat menjadi tambahan untuk pengelolaan periodontitis. Bifosfonat, adalah obat terapi yang paling sering diresepkan untuk osteoporosis, menghambat resorpsi tulang sistemik.

Obat-obat yang alter bone metabolisme, seperti estrogen dan bisfospat disarankan oleh beberapa studi kasus sebagai pendekatan baru untuk pengobatan periodontitis pada pasien pasca menopose.

Jurnal ini membahas tentang pentingnya efek menopose pada jaringan periodontal.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s